Ads (728x90)

1.     Alan Riadi. Pengaruh Program Pemberdayaan Gabungan Perkumpulan Petani Pemakai Air (GP3A) Terhadap Pendapatan Petani Anggota GP3A di Kecamatan Leuwiliang Kabupaten Bogor.Skripsi.Departemen Agribisnis, Fakultas Ekonomi dan Manajemen, Institut Pertanian Bogor (Dibawah Bimbingan HENY K DARYANTO)
Mendiskripsikan kegiatan yang dilaksanakan dalam program pemberdayaan GP3A dengan melihat sejauh mana konsep kegiatan tersebut dapat diterapkan di GP3A Mitra Tani di Kecamatan Leuwiliang Kabupaten Bogor guna meningkatkan kinerja GP3A tersebut dalam mengelola irigasi dan menganalisis pengaruh pemberdayaan terhadap pemberdayaan di GP3A.
2.     Muharminto, Sumaryanto, dan Mewa Ariani. Keseuaian Kelompok Sasaran, Areal Sasaran, Agroekosisitem dan Paket Kegiatan Proyek P2WK, serta Kulaitas Implementasinya. Jurnal. Pusat Peneliti Sosial Ekonomi Pertanian.
Implementasi proyek P2WK di tingkat propinsi mengalami pengembangan atau modifikasi disesuaikan dengan kondisi setempat, kebrhasilan proyek sangat dipengaruhi oleh kualitas manajemen pelaksanaan di lapangan yang mencakup perencanaan opersional, pengorganisasian, pelaksanaan dan pembinaan, Aspek yang perlu disempurnakan dalam sisitem pembinaan terkait  langsung dengan implikasi logis dari hasil temuan, sistem pendekatan pemecahan masalah yang sifatnya lokal perlu mendapat tekanan.
3.     Zusmelia, Djuara P. Lubis. Idigeneus Knowledge, Masyarakat Lokal dan Proses Pembangunan Indonesia (Antara Harapan dan Kenyataan). Jurnal. Jurusan Sosial Ekonomi Pertanian Fakultas Pertanian IPB, Vol 17 No.1 April 2004.
Pengetahuan lokal yang mencakup aspek ekonomi, politik, lingkungan dan sistem kepercayaan dalam keseharian masyarakat lokal adalah merupakan alternatif melalui pengalaman keseharian mereka dengan alam sekitarnya. Hanya dengan mememahmi peran dan fungsi komunikasi sosial rasanya para agen pembangunan dapat mempertemukan dan menggandeng indegeneus knowledg dengan pengetahuan ilmiah menjadi kekuatan baru yang lebih arif dan menyentuh masyarakat”akar rumput”
4.     Sumardjo. Kemandirian Sebagai Indikator Kesiapan Petani Menghadapi Era Globalisasi Ekonomi. Jurnal. Jurusan Sosial Ekonomi Pertanian Fakultas Pertanian IPB, Vol 12 No.1 April 1999.
Menghadapi persaingan bebas di era globalisasi ekonomi dan peningkatan kesadaran konsumen atas mutu produk pertanian, dinilai sudah menjadi kebutuhan yang mendesak untuk mengembangkan kemandirian petani. Petani yang mandiri adalah mereka yang mempunyai kapabilitas untuk mengelola usahatani yang adaptif terhadap perubahan lingkungan sosial dan fisik. Hasil Studi menunjukkan masih rendahnya tingkat kesiapan petani dalam bersaing di era globalisasi. Kedinamisan penyuluh pertanian untuk mengembangkan kemandirian petani juga masih rendah.Implementasi sistem penyuluhan yang dinilai efektif untuk meningkatkan kemandirian petani adalah yang berciri pendekatan partisipatif, dialogis, dan beriorientasi pada petani dengan pendekatan model komunikasi konvergen.
5.     Jatnika Arifin. Strategi Pemberdayaan Agribisnis Pedesaan(Kasus: Desa Tangkil dan Hambalang Di Kecamatan Citeureup,Kabupaten Bogor). Skripsi. Departemen Agribisnis, Fakultas Ekonomi dan Manajemen, Institut Pertanian Bogor (Dibawah Bimbingan Muhammad Firdaus)
Pembangunan pedesaan sangat diperlukan untuk Indonesia karena sebagian besar penduduk Indonesia melakukan pertanian sebagai mata pencaharian, dan mereka tinggal di pedesaan. Dalam usaha mempercepat laju pertumbuhan sektor agribisnis pedesaan, petani dihadapkan dengan kondisi yang serba lemah. Dapat ditempuh melalui penerapan sisitem pengembangan agribisnis. Pengembangan agribisnis pedesaan merupakan pilihan tepat dan strategis untuk dapat menggerakkan roda perekonomian dan pemberdayaan ekonomi masyarakat pedesaan.
6.     Tri Panandji. Penajaman Analisis Kelembagaan dalam Persspektif Penelitian Sosioloigi Pertanian dan Pedesaan. Jurnal. Pusat Penelitian dan Pengembangan Sosial Ekonomi Pertanian. Forum Penelitian Agroekonomi Vol.21. No 1, Juli 2003
Penganalisaan kelembagaan dalam perspektif penelitian sosiologi pertanian dan pedesaan, berbagai aspek yang perlu dipahami dalam penelitiaan kelembagaan untuk mempercepat dan memeprtajam pembangunan pertanian dan pedesaan adalah pertama, aspek kelembagaan sangat berperan penting dalam mengarahkan dan mempercepat perubahan sosial yyang direncanakan. Kedua, aspek perkembangan dan adopsi teknologi, perkembangan ekonomi merupakan indikator yang harus dipertimbangkan secara serius dalam perubahan sosial yang direncanakn atau pembangunan pertanian dan pedesaan. Ketiga, komponen kelembagaan yang penting dikaji serius adalah kompetensi sumberdaya manusia, tatanilai maju, kepemimpinan, struktur dan organisasi sosial, manajemen sosial, dan hukum dan pemerintahan.
7.     Nizwar Syafaat, Pantjar Simatupang, Sudi Mardianto, dan Tri Pranadji. Konsep Pengembangan Wilayah Berbasisi Agribisnis dalam Rangka  Pemberdayaan Petani. Jurnal. Pusat Penelitian dan Pengembangan Sosial Ekonomi Pertanian. Forum Penelitian Agroekonomi Vol.21. No 1, Juli 2003
Program pengembangan wilayah agribisnis yang dilakukan pemerintah selama ini belum sepenuhnya dapat membuat petani lebih berdaya . Salah satu penyebabnya adalah masih terbatasnya pelibatan masyarakat dalam perencanaan maupun pelaksanaan program pengembangan. Salah satu bentuk operasional konsep agribisnis yang dapat dikembangkan adalah model one village one product movement. Model ini merupkana kegiatan pengembangan wilayah yang aktivitasnya diinisiasi oleh penduduk lokal dan difasilitasi oleh pemerintah daerah.Tiga prinsip utama pengembangan model ini adalah (1) pengembangan komoditas unggulan daerah yang mampu bersaing dipasar internasional (2) keputusan dan inisiatif dilakukan oleh penduduk lokal dan (3) pengembangan sumberdaya manusia.
8.     Rini Dwi Astuti, Nuhfi Hanani. Peran Kelembagaan Lokal Dalam Pengembangan Diversivikasi Pangan. Jurnal. Jurusan Sosial Ekonomi Pertanian Universitas Brawijaya. Habitat Volume XX No.2 Bulan Agustus 2009.
Diversifikasi pangan dapat dikembangkan dengan baik manakala ada potensi kemanfaatan yang disarakan lembaga. Skenario kebijakan pengembangan diversifikasi pangan adalah melalui penuatan kelembagaan lokal dengan penyiapan paket intensifikasi pekarangan, teknologi pengolahan, modul pemberdayaan, pelatihan, pembinaan dan penguatan modal
9.     Moch. Muslich Mustajab, Harin Tiawon. Ketahanan Pangan Utama Indoensia pada Era Liberalisasi Perdagangan. Jurnal. Jurnal. Fakultas Pertanian, Universitas Brawijaya. Fakultas Ekonomi, Universitas Palangkaraya. Habitat Volumen XX No.2 Bulan Agustus.
Penerapan liberaslisasi perdagangan telah memberikan dampak negatif terhadap kinerja ekonomi makanan pokok Indonesia. Situasi ini akan meningkatkan impor pangan, terutama beras. Kebijakan optimal kombinasi yang dapat meningkatkan ketahanan pangan pokok Indonesia berdasarkan ketersediaan, aksessibilitas dan aspek kerentanan pangan adalah peningkatan investasi 50 persen dan mengurangi subsidi pupuk selama 30 persen. Kedua kebijakan dapat meningkatkan produksi pangan,pendapatan petani dan untuk melayani harga pangan murah.
10.   Syarif Imam Hidayat. Analisis Kinerja Penyuluh Opertanian di Wilayah Kerja Unit Penyuluhan Pertanian Sukodono, Sidoarjo. Fakultas Pertanian “Veteran” Jawa Timur. Habitat Volume XX No.1 Bulan Agustus 2009.
Kinerja penyuluh yang mempengaruhi kinerja kelompok tani agribisnis adalah kemampuan penyuluh, sedangkan frekuansi pertemuan penyuluh dengan petani dan daya tanggap penyuluh tidak terpengaruh etrhadap kinerja kelompok tani agribisnis di WKUPP Sukodono. Upaya apa yang dilakukan dalam peningkatan kinerja penyuluhan terkait upaya peningkatan kinerja kelompoktani agribisnis di WKUPP Sukodono Kabupaten Sidoarjo antara lain : Strategi perkembangan teknologi, inetgrasi penyuluh dan petani, strategi pendektan penyuluhan pertanian, strategi desentralisasai penyuluhan pertanian sesuai kebutuhan dan potensi daerah, strategi penyuluhan pertanian berorientasi bisnis, strategi peningkatan kemampuan penyuluhan pertanian dan strategi teknis penyelenggara pertanian yang efektif dan efisien.


KESIMPULAN



Petani merupakan ujung tombak dalam penentuan pembangunan dalam dunia agribisnis, oleh karena itu diperlukan adanya pembinaan yang intensif untuk dapat meningkatkan pengetahuan
dan keterampilan petani. Peningkatan pengetahuan dan keterampilan petani sangat diperlukan guna menghadapi globalisasi eknomi. Dalam menghadapi era globalisasi ekonomi petani dituntut untuk mampu bersaing dan mandiri dalam melakukan usahanya. Berbagai program dan kebijakan yang telah dibuat oleh pemerintah saat ini tidak hanya menuntut petani untuk merubah kuantitatif produksi namun juga kualitas produksi petani. Permasalahan selanjutnya adalah apakah strategi pemberdayaan sebagai tangan panjang dari program pemerintah tersebut telah sesuai dengan keinginan petani, sehingga memudahkan dalam transformasi alih teknologi dan ilmu yang dibutuhkan petani lainnya. Jika transformasi alih teknologi dan pengetahuan serta berbagai bantuan yang diberikan telah menyentuh petani tentunya saat ini negara indonesia telah memiliki kedaulatan pangan yag kuat sehingga dapat meningkatkan ketahanan pangan nasional

Poskan Komentar

  1. TAWARAN PINJAMAN ITU YANG TERBAIK,
    kami bersertifikat pemberi pinjaman pinjaman, kami menawarkan pinjaman untuk berbagai jenis proyek yang Anda butuhkan.
    Kami memberikan pinjaman untuk proyek, Bisnis, pajak, dan untuk banyak reasons.how lain untuk Hubungi kami sekarang dan mendapatkan pinjaman yang Anda butuhkan dengan tingkat bunga yang rendah 3% Anda dapat mencapai us:granth.w@hotmail.co.uk
    Catatan: kami ingin Anda tahu bahwa kita adalah lisensi di bawah email board.re-lapis legit pinjaman kami melalui _granth.w@hotmail.co.uk

    BalasHapus

Bagaimana Komentar Anda?